Investasi dan Produktivitas: Kunci Stabilisasi Ekonomi Indonesia di Tangan Generasi Muda

Ilustrasi

MEDIAAKSI.COM – Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) kita ketahui merupakan bangsa yang besar. Saat ini Indonesia tengah di hadapkan dengan tantangan ekonomi yang sangat kompleks. Hal ini tentu rentetan panjang pascapandemi global. Dari adanya ketidakpastian ekonomi global seperti inflasi yang sangat fluktuatif hingga nilai tukar rupiah yang semakin tertekan menuntut adanya startegi yang tepat untuk terus menjaga stabilitas ekonomi nasional. Kondisi yang serba tidak pasti ini mendorong kawula muda di Indonesia mengambil peran sebagai agen perubahan.

Peningkatan produktivitas dan literasi investasi di kalangan kawula muda menjadi fondasi kuat untuk menjaga stabilisasi ekonomi. Dua elemen fundamental tersebut memberikan kombinasi ketahanan ekonomi individu dan turut berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.

Literasi Investasi: Fondasi Keuangan Yang Kokoh

Kawula muda saat ini sangat mudah untuk mengakses teknologi yang belum pernah ada sebelumnya. Hadirnya berbagai platform investasi digital, aplikasi peer-to-peer lending, hingga cryptocurrency telah membuka pintu demokratisasi investasi. Namun, kemudahan ini harus diimbangi dengan pemahaman yang memadai.

Rendahnya penetrasi pasar modal di Indonesia yang hanya sekitar 2-3% dari populasi aktif yang berinvestasi di bursa saham. Adanya Investasi cerdas yang terukur dapat menjadi instrumen penting guna melindungi aset dari inflasi. Tentunya hal ini akan menciptakan passive income guna mendukung kestabilan ekonomi jangka panjang. Tingginya volatilitas pada harga komoditas strategis, adanya tensi geopolitik, dan volatilitas pasar keuangan akan menimbulkan upside risk dan downside risk yang silih berganti.

Investasi yang dimaksud bukan sekadar spekulasi jangka pendek, melainkan pemahaman komprehensif tentang diversifikasi portofolio, manajemen risiko, dan perencanaan keuangan yang matang. Dengan diluncurkannya program literasi keuangan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), upaya ini perlu diperluas dengan melibatkan ekosistem pendidikan, komunitas, dan influencer yang dekat dengan generasi muda.

Indonesia sedang dalam masa bonus demografi dengan 70% populasi berada di usia produktif, namun potensi ini belum teroptimalkan. Penetrasi pasar modal yang rendah yang hanya 2-3% dari populasi menunjukkan minimnya partisipasi masyarakat dalam ekonomi produktif. Di sisi lain, produktivitas tenaga kerja Indonesia masih tertinggal dibanding negara ASEAN lainnya. Tanpa intervensi strategis, bonus demografi bisa berubah menjadi beban demografi.

Mengapa generasi muda yang menjadi fokus? Generasi muda memiliki literasi teknologi yang tinggi, adaptabilitas terhadap perubahan, dan waktu yang panjang untuk merasakan compound effect dari investasi jangka panjang. Mereka juga merupakan calon penggerak ekonomi masa depan yang akan menentukan trajektori pertumbuhan Indonesia dalam 20-30 tahun mendatang.

Produktivitas: Mengoptimalkan Potensi Bonus Demografi

Indonesia tengah menikmati bonus demografi dengan populasi usia produktif yang besar. Namun, bonus ini hanya akan menjadi berkah jika disertai dengan produktivitas yang tinggi. Sayangnya, tingkat produktivitas tenaga kerja Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara-negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand.

Generasi muda harus mengadopsi mindset produktif yang tidak hanya berorientasi pada bekerja keras, tetapi juga bekerja cerdas. Ini mencakup peningkatan kompetensi melalui upskilling dan reskilling, terutama di bidang teknologi digital, data analytics, dan keterampilan abad 21 lainnya yang relevan dengan kebutuhan industri masa depan.

Produktivitas juga berbicara tentang entrepreneurship dan inovasi. Generasi muda memiliki kreativitas dan keberanian untuk menciptakan solusi-solusi baru melalui startup dan UMKM digital. Ekosistem yang mendukung—mulai dari akses pembiayaan, mentorship, hingga regulasi yang kondusif—akan mengakselerasi transformasi produktivitas ini menjadi pertumbuhan ekonomi riil.

Penulis : Jefri Eko Cahyono
Magister Manajemen Universitas Muhammadiyah Ponorogo

Pos terkait