MEDIAAKSI.COM – Perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel kini meluas ke ranah digital melalui penyebaran konten kecerdasan buatan (AI) yang mengaburkan batas antara fakta dan rekayasa. Maraknya konten deepfake menyebabkan publik kehilangan pegangan terhadap informasi, bahkan video asli pun kerap dituding sebagai produk AI.
Fenomena ini memicu keraguan publik terhadap segala bentuk bukti visual yang beredar di media sosial, termasuk video Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang sempat viral dan diduga hasil rekayasa AI.
Kecurigaan terhadap keaslian video sempat merebak ketika Netanyahu terlihat dalam sebuah tayangan yang memicu perdebatan mengenai jumlah jari tangannya.
Video tersebut sejatinya adalah asli, namun di tengah konflik yang memanas di Timur Tengah, kebenaran kerap menjadi korban pertama spekulasi liar. Berbagai tudingan muncul, mulai dari klaim Netanyahu telah tewas atau terluka dalam serangan Iran hingga tuduhan Israel menggunakan deepfake untuk menutupi fakta.
Dividen Pembohong dan Krisis Kepercayaan Informasi
Peneliti forensik digital menjelaskan bahwa “jari keenam” yang terlihat pada video Netanyahu hanyalah ilusi optik akibat pantulan cahaya, bukan cacat visual yang dihilangkan oleh AI. Namun, penjelasan logis ini justru tenggelam oleh riuhnya perdebatan di kalangan warganet.
Teknologi AI yang semakin canggih kini mampu memanipulasi citra dengan sangat meyakinkan, menciptakan fenomena yang disebut para ahli sebagai Liar’s Dividend atau keuntungan bagi pembohong. “Masalahnya bukan lagi sekadar orang percaya pada disinformasi, tetapi mereka mulai tidak percaya pada berita yang benar,” ujar Constance de Saint Laurent, profesor dari Maynooth University, melansir AFP.
Bahkan, video klarifikasi dari Netanyahu yang mengunggah dirinya sedang berada di kafe sambil memamerkan kedua tangannya justru memicu teori konspirasi baru. Netizen menuduh video tersebut tetap merupakan hasil AI karena volume kopi dalam cangkirnya tidak berkurang setelah ia terlihat meminumnya.
Jaringan global AFP sendiri telah menyanggah lebih dari 500 informasi palsu sejak konflik pecah, di mana sekitar 20 persen di antaranya terbukti menggunakan teknologi AI. Volume dan realisme gambar AI yang diproduksi secara murah menjadi pembeda utama dalam perang informasi kali ini dibandingkan konflik-konflik sebelumnya.
Platform teknologi kini dibanjiri dengan apa yang disebut sebagai ‘sampah AI’ atau AI slop. Hal ini mengakibatkan krisis kepercayaan yang semakin mendalam, di mana fabrikasi AI yang hiper-realistis bersaing ketat dengan citra dan video otentik, seringkali menenggelamkan kebenaran.
Platform media sosial seperti X turut memperburuk situasi. Algoritma yang mengutamakan keterlibatan (engagement) dan insentif finansial bagi kreator membuat konten sensasional, meskipun palsu, lebih cepat menyebar. Contoh ekstrem adalah video AI yang menampilkan gedung pencakar langit Burj Khalifa runtuh, yang ditonton jutaan kali sebelum diberi label verifikasi.
Dewan Pengawas Meta telah memperingatkan bahwa konten palsu tidak hanya sekadar hiburan, tetapi berpotensi memicu kekerasan nyata dan memperkeruh konflik. Ironisnya, alat pendeteksi AI pun sering kali tidak akurat. Dalam kasus Netanyahu, satu alat mendeteksi videonya 96,9 persen buatan AI, sementara alat lain memberikan hasil sebaliknya.
“Inilah yang diinginkan aktor jahat: membuat orang berpikir bahwa segala sesuatu bisa dipalsukan, sehingga mereka tidak bisa mempercayai apa pun,” tegas Hannah Covington dari News Literacy Project.
Batas antara fakta dan fabrikasi semakin kabur, terlihat dari unggahan foto tas sekolah berlumuran darah yang diduga kuat buatan AI oleh akun resmi pemerintah terkait serangan udara di sebuah sekolah dasar di Minab, Iran. Banyak netizen tidak lagi memprioritaskan akurasi visual selama “maknanya terasa nyata.” Video meme yang tampak nyata juga telah digunakan untuk menggambarkan kemenangan militer fiktif Iran, bahkan mengubah Selat Hormuz menjadi gerbang tol bergaya kartun.
Presiden AS Donald Trump sendiri telah memperingatkan bahwa AI telah menjadi “senjata disinformasi yang digunakan Iran dengan sangat baik.” Ia menyebut gambar bangunan dan kapal yang terbakar sebagai “BERITA PALSU, yang dihasilkan oleh AI.” Namun, ia juga merangkul teknologi ini dengan membagikan gambar dan video AI yang menggambarkan dirinya sebagai raja atau Superman, serta menggunakan meme AI untuk memicu teori konspirasi.
Sementara itu, operasi informasi terkoordinasi yang terkait dengan Rusia memanfaatkan kekacauan daring ini dengan menyamar sebagai media tepercaya seperti BBC untuk menyebarkan kebohongan.







