MEDIAAKSI.COM – Perkembangan teknologi digital membawa perubahan besar dalam cara masyarakat berkomunikasi. Interaksi tidak lagi harus dilakukan melalui pertemuan tatap muka karena berbagai kebutuhan komunikasi dapat dilakukan melalui media sosial, aplikasi percakapan, maupun platform pembelajaran daring. Kemudahan tersebut membuat penyampaian informasi menjadi lebih cepat. Namun, komunikasi digital juga menghadirkan persoalan baru, terutama ketika etika serta kepekaan terhadap perasaan penerima pesan mulai diabaikan.
Suryaningsih dkk. (2024) menjelaskan bahwa kecerdasan emosional memiliki peran penting dalam menghadapi perubahan pola interaksi pada era digital. Kemampuan mengenali, memahami, serta mengelola emosi diri maupun orang lain menjadi bagian penting dalam membangun hubungan sosial secara sehat. Kondisi tersebut menjadi semakin penting dalam komunikasi berbasis layar karena pesan tidak selalu disertai ekspresi wajah maupun intonasi suara. Oleh sebab itu, penggunaan bahasa perlu disertai pertimbangan terhadap kondisi emosional penerima pesan.
Perspektif Estetika Humanisme menempatkan nilai keindahan tidak sebatas aspek fisik. Keindahan juga dapat tercermin melalui perilaku serta cara manusia memperlakukan sesamanya. Rasa hormat, kepedulian, kesantunan, serta penghargaan terhadap martabat manusia menjadi bagian penting dari nilai tersebut. Penerapan kecerdasan emosional dalam komunikasi digital diperlukan agar perkembangan teknologi tetap berjalan seiring dengan penghormatan terhadap nilai kemanusiaan.
Kecerdasan emosional mencakup kemampuan mengenali kondisi emosional diri, mengendalikan respons, serta memahami keadaan emosional orang lain. Kemampuan tersebut memiliki keterkaitan dengan prinsip Estetika Humanisme. Penyampaian pendapat tidak cukup hanya memperhatikan isi pesan. Cara penyampaian perlu mempertimbangkan dampak psikologis terhadap penerima. Penghormatan terhadap sesama menjadi salah satu indikator kualitas komunikasi dalam kehidupan sosial.
Perilaku Menyindir serta Merendahkan Orang Lain di Media Sosial
Salah satu persoalan dalam komunikasi digital terlihat dari kebiasaan memberikan komentar berupa sindiran, ejekan, maupun penghinaan. Kebebasan berpendapat terkadang dipahami sebagai kebebasan untuk mengatakan apa saja tanpa memikirkan dampaknya. Akibatnya, unggahan berupa pendapat, karya, maupun pengalaman pribadi dapat menerima komentar tentang fisik, kemampuan, bahkan informasi pribadi tanpa adanya kepastian mengenai kebenarannya.
Persoalan serupa dapat ditemukan dalam lingkungan pendidikan. Pendapat dosen maupun hasil pekerjaan mahasiswa dapat menjadi sasaran komentar negatif melalui media sosial. Respons semacam itu sering diberikan tanpa pemahaman terhadap latar belakang persoalan secara utuh. Keadaan tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara kemampuan menggunakan teknologi dengan kemampuan mengelola emosi saat berkomunikasi.
Komunikasi melalui media digital juga dapat mengurangi kesadaran terhadap dampak suatu perkataan. Tidak adanya pertemuan secara langsung terkadang membuat seseorang lebih berani menyampaikan sesuatu melalui media digital. Komentar berupa tulisan dapat terasa sederhana bagi pengirimnya, padahal penerima pesan bisa merasakan dampak berbeda. Kalimat singkat pun dapat menimbulkan rasa malu, kecewa, tertekan, bahkan memengaruhi kepercayaan diri seseorang. Tulisan dianggap sebagai bentuk komunikasi sederhana tanpa konsekuensi berarti. Pandangan tersebut perlu dikoreksi karena pesan singkat tetap mampu menimbulkan rasa malu, kekecewaan, tekanan emosional, bahkan penurunan kepercayaan diri.
Ditinjau melalui konsep kecerdasan emosional, perilaku merendahkan orang lain berkaitan dengan lemahnya pengendalian diri serta rendahnya empati. Pengguna media digital perlu memahami keberadaan manusia di balik setiap akun. Setiap individu memiliki perasaan, harga diri, serta batas penerimaan terhadap suatu perkataan. Komunikasi melalui layar tidak menghapus tanggung jawab moral untuk menghormati sesama.
Perspektif Estetika Humanisme menilai perilaku saling merendahkan sebagai tindakan yang dapat menurunkan kualitas hubungan sosial. Media digital seharusnya mendukung pertukaran informasi serta gagasan secara sehat. Penggunaan media sebagai sarana penghinaan justru menggeser fungsi komunikasi menuju tindakan yang merugikan pihak lain. Kondisi tersebut tidak sejalan dengan prinsip penghargaan terhadap martabat manusia.
Peran Kecerdasan Emosional dalam Komunikasi Digital
Kemajuan teknologi membutuhkan keseimbangan berupa kemampuan pengguna dalam mengelola perilaku komunikasi. Kecerdasan emosional dapat menjadi landasan untuk membangun interaksi digital secara lebih bertanggung jawab. Penerapannya dapat dilihat melalui beberapa aspek berikut.
1. Kesadaran Diri
Kesadaran terhadap kondisi emosional diperlukan sebelum seseorang memberikan respons. Perasaan marah, kecewa, maupun tersinggung dapat memengaruhi cara seseorang memilih kata. Penundaan respons ketika emosi sedang tinggi dapat membantu menghasilkan tanggapan lebih rasional. Pengguna memiliki kesempatan untuk mempertimbangkan kembali isi pesan sebelum mengirimkannya.
2. Pengendalian Emosi
Perbedaan pandangan merupakan bagian dari proses komunikasi. Perbedaan tersebut tidak perlu disertai penghinaan maupun penggunaan bahasa kasar. Kritik tetap dapat disampaikan secara tegas melalui pilihan kata yang sopan. Kemampuan mengendalikan emosi membantu menjaga pembahasan tetap berfokus pada persoalan tanpa menyerang pribadi.
3. Empati
Empati berperan dalam memahami kemungkinan perasaan penerima pesan. Komunikasi berbasis teks memiliki keterbatasan karena ekspresi wajah, gestur, serta intonasi tidak selalu dapat tersampaikan. Pemilihan kata perlu dilakukan secara hati-hati agar pesan tidak menimbulkan penafsiran negatif. Pertimbangan terhadap posisi penerima menjadi bagian penting dalam membangun komunikasi digital secara manusiawi.
4. Kesadaran Sosial
Kebebasan menyampaikan pendapat tetap berada dalam batas etika sosial. Hak untuk mengemukakan pandangan tidak memberikan pembenaran untuk menyerang harga diri pihak lain. Kesadaran sosial membantu pengguna mengenali perbedaan antara kritik konstruktif, pendapat pribadi, sindiran, penghinaan, serta serangan personal.
Ruang digital tidak dapat dipandang sebagai wilayah bebas dari tanggung jawab moral. Ketiadaan interaksi tatap muka justru membutuhkan kehati-hatian lebih tinggi dalam penggunaan bahasa. Komunikasi tertulis tidak selalu mampu menyampaikan maksud secara utuh karena tidak disertai ekspresi maupun intonasi. Pemilihan kata menjadi faktor penting dalam mengurangi kesalahpahaman sekaligus menjaga kualitas hubungan sosial.
Perkembangan teknologi digital tidak seharusnya mengurangi nilai kemanusiaan dalam kehidupan sosial. Teknologi berperan sebagai sarana komunikasi. Kualitas interaksi tetap ditentukan oleh perilaku pengguna dalam memanfaatkannya.
Kecerdasan emosional memiliki posisi penting dalam mempertahankan nilai Estetika Humanisme pada era digital. Kesadaran diri, pengendalian emosi, empati, serta kesadaran sosial dapat membentuk pola komunikasi lebih santun sekaligus bertanggung jawab. Nilai keindahan dalam komunikasi tidak ditentukan oleh jumlah pengikut maupun tingkat perhatian publik. Keindahan tersebut tercermin melalui kemampuan menggunakan bahasa secara bijaksana serta menghormati martabat sesama.
Menurut saya, komunikasi digital tetap merupakan bentuk interaksi antarmanusia sehingga penghormatan terhadap martabat setiap individu perlu menjadi dasar dalam penggunaannya. Kesantunan bukan sekadar aturan dalam menyampaikan pesan, tetapi juga mencerminkan kualitas pribadi serta bentuk penghargaan terhadap sesama. Penerapan kecerdasan emosional dapat membantu menciptakan ruang digital yang lebih sehat, aman, serta tetap berlandaskan nilai kemanusiaan.
Daftar Referensi
1. Materi Perkuliahan MKU Estetika Humanisme, Universitas Siber Asia, Tahun Ajaran 2025/2026.
2. Suryaningsih, C., Saripuddin, Widjiyati, N., & Sumiyanto, A. (2024). Kecerdasan Emosional di Era Digital. PT Media Penerbit Indonesia.
3. Sumber Rujukan Pakar/Ahli: https://www.youtube.com/watch?v=qWBE08TXkKs
-
Claudya Renata Simangunsong - Mahasiswa Universitas Siber Asia






