MEDIAAKSI.COM – Popularitas rokok elektrik atau vaping di kalangan remaja Indonesia meningkat jauh lebih cepat daripada yang banyak orang sadari. Data nasional menunjukkan bahwa kelompok usia 15–24 tahun kini menjadi pengguna paling aktif, dan ada satu temuan yang cukup mengejutkan: remaja perempuan ternyata memiliki riwayat penggunaan rokok elektrik lebih tinggi dibanding laki-laki.
Fenomena ini menandai pergeseran besar dalam pola perilaku merokok di Indonesia, dan memberi sinyal bahwa kelompok yang selama ini dianggap kurang berisiko justru mulai menjadi pengguna utama produk nikotin baru.
Mengapa Hal Ini Penting?
Selama ini yang kita ketahui, perilaku merokok identik dengan laki-laki. Namun dengan hadirnya rokok elektrik, stigma sosial yang ditimbulkan juga mengalami perubahan. Perempuan dengan usia muda semakin banyak mencoba vaping, sebagian terdorong oleh tren media sosial, sebagian lagi termakan persepsi bahwa rokok elektrik “lebih aman” dan “tidak berbau”.
Padahal, WHO telah menegaskan bahwa rokok elektrik tetap mengandung nikotin yang dapat mengganggu perkembangan otak remaja. Nikotin juga meningkatkan risiko ketergantungan jangka panjang, terutama jika digunakan di usia muda dan dalam masa pertumbuhan. Ketika remaja perempuan mulai menggunakan dan menunjukkan gejala adiksi, dampak kesehatannya berpotensi lebih parah, termasuk terhadap kesehatan reproduksi dan pola perilaku jangka panjang akibat adiksi.
Temuan ini bukan hanya tentang perubahan angka. Ini tentang perubahan budaya, persepsi, dan bagaimana industri rokok berhasil memindahkan target pasarnya.
Fakta-Fakta Penting di Balik Tren Ini
Berdasarkan analisis dari Global Adult Tobacco Survey (GATS) 2021, lebih dari 270 remaja usia 15–24 tahun disurvei untuk melihat faktor demografi yang berhubungan dengan penggunaan rokok elektrik. Menariknya, jenis kelamin menjadi satu-satunya faktor yang berhubungan signifikan.
- Perempuan: 48,4% memiliki riwayat penggunaan rokok elektrik
- Laki-laki: hanya 21,2%
Artinya, peluang remaja perempuan pernah menggunakan vape dua kali lebih tinggi dibanding laki-laki.
Sementara itu, faktor lain seperti usia, pendidikan, dan pekerjaan ternyata tidak memiliki hubungan signifikan. Baik remaja SMA, mahasiswa, pekerja, maupun yang tidak bekerja memiliki pola riwayat penggunaan yang relatif sama.
Ini mengisyaratkan bahwa penggunaan rokok elektrik lebih didorong oleh gaya hidup dan pengaruh sosial, bukan latar belakang pendidikan atau kondisi ekonomi.
Apa yang Mendorong Remaja Perempuan Mulai Vaping?
Ada beberapa faktor yang muncul dari penelitian dan tren sosial saat ini:
- Persepsi bahwa “vape lebih aman”
Banyak remaja terutama perempuan, menganggap rokok elektrik tidak berbahaya. Rasanya lebih ringan, asapnya lebih wangi, dan tidak meninggalkan bau seperti rokok konvensional. Padahal, nikotin tetap menjadi kandungan utama yang bersifat adiktif.
- Pengaruh media sosial
Produk vape sering muncul dalam konten gaya hidup, review produk, hingga video estetik yang menampilkan remaja perempuan menggunakan vape sebagai bagian dari “tren kekinian”. Visualisasi seperti ini membuat vape tampak normal, bahkan keren. Hal ini yang memicu pemakaian secara luas oleh masyarakat khususnya perempuan.
- Pengemasan yang menarik
Desain warna-warni, aroma buah, hingga bentuk device yang kecil membuatnya mudah diterima dan tidak tampak seperti produk berbahaya. Citra ini berbeda jauh dengan rokok konvensional yang identik dengan aroma kuat dan stigma negatif.
- Akses yang semakin mudah
Platform e-commerce, minimarket, hingga toko vape menyediakan rokok elektrik dengan harga sangat beragam. Tidak sedikit pula yang menjual tanpa batasan usia.
Semua faktor ini menciptakan kombinasi yang membuat remaja perempuan rentan mencoba dan kemudian terus menggunakan.
Mengapa Usia, Pendidikan, dan Pekerjaan Tidak Berpengaruh?
Hasil penelitian menunjukkan bahwa remaja yang kuliah, bekerja, atau tidak bekerja memiliki peluang penggunaan serupa. Ini menandakan bahwa vaping bukan lagi perilaku kelompok tertentu, melainkan tren lintas kelas sosial.
Begitu pun dengan usia. Remaja 15 tahun hingga 24 tahun menunjukkan pola yang relatif merata. Ini memperkuat pandangan bahwa rokok elektrik menjadi bagian dari budaya digital yang menyasar seluruh remaja, bukan kelompok tertentu saja.
Dengan kata lain, vape sudah menjadi bagian dari kehidupan sosial remaja secara umum.
Apa Implikasinya Terhadap Perempuan Remaja?
Temuan bahwa remaja perempuan kini lebih banyak melakukan vaping dibanding laki-laki menunjukkan bahwa strategi industri nikotin berhasil menggeser persepsi publik. Pada saat yang sama, hal ini menandakan bahwa edukasi kesehatan mengenai bahaya rokok elektrik belum sepenuhnya menyentuh kelompok perempuan muda.
Jika tidak diintervensi sejak dini, maka hal-hal inilah yang akan terjaid. Pertama, ketergantungan nikotin bisa meningkat. Kedua, potensi transisi ke rokok konvensional tetap ada. Terakhir, risiko kesehatan jangka panjang akan semakin besar.
Selain itu, meningkatnya penggunaan rokok elektrik di usia remaja dapat membentuk budaya baru yang lebih sulit diubah ketika mereka memasuki usia dewasa.
Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Jika ingin melindungi remaja, terutama perempuan, seharusnya pendekatan pencegahan dilakukan dengan cara yang lebih relevan dan dekat dengan dunia mereka.
- Edukasi khusus untuk remaja perempuan
Konten edukasi harus dikemas sedemikian rupa sehingga menarik dan tidak menggurui. Program di sekolah, komunitas remaja, hingga kampanye media sosial yang berfokus pada perempuan muda perlu digiatkan.
- Pengawasan promosi vape di media sosial
Banyak konten rokok elektrik yang tidak diberi tanda iklan, sehingga tidak terlihat sebagai promosi. Pengawasan ini penting untuk mencegah paparan berlebihan.
- Keterlibatan keluarga dan sekolah
Orang tua dan guru harus mulai memahami bahwa vape bukan sekadar “asap wangi”, tapi produk nikotin yang adiktif.
Perubahan tren penggunaan rokok elektrik pada remaja Indonesia adalah sinyal yang tidak boleh diabaikan. Ketika perempuan muda mulai mengambil peran sebagai pengguna utama, upaya pencegahan harus disesuaikan dengan dinamika baru yang sangat potensial untuk disepelekan. Vaping bukan hanya perilaku individu, tetapi fenomena sosial yang membutuhkan perhatian serius. Mengabaikannya berarti membiarkan generasi muda terpapar risiko ketergantungan nikotin di masa depan.
Penulis : Wildan Achromi, Nelsa Fitria Wahab, Dian Oliviana Susanto, Salman Ali Farabi (Mahasiswa Universitas Indonesia)







